MAYOR BEJO MENGHADANG KONVOI BELANDA PADA AGRESSI-II DI SIMAGO-MAGO 

Medan, 01 Juni 2018

Oleh Drs. H. M. Fajar Bangun

     Terjadinya tumpang tindih antara pasukan tentara dengan pasukan Laskar Rakyat  yang berhaluan Politik ataupun masyarakat yang mengangkat diri sendiri dan golongannya dengan memakai tanda pangkat sesuka hati mulai dari sersan, letnan malahan ada yang mengangkat diri jadi Jenderal tanpa Pasukan (waktu itu disebut Jenderal Mundar mandir) Pada hal sejak tanggal 10 Oktober 1945 sudah dibentuk T.K.R di Sumatera Utara dengan tanda pangkat tertinggi adalah “Mayor, Kapten, dan Letnan” bagi yang pernah mengikuti Pendidikan Tentara Jepang serta Sersan kebawah bagi yang tidak mengikuti Pendidikan Tentara Jepang. Rantai Komando Tentara itu diperjelas dengan tanggal 6 mei 1946 sewaktu diadakannya pelantikan Militer pertama di Medan dengan Upacara yang dihadiri oleh utusan dari Pusat yang bernama Mayor Jenderal Harjowardoyo mulai saat itu tidak diberlakukan lagi pengangkatan tentara dan pemberian pangkat yang tidak sesuai dengan prosedur pendidikan karena administrasi TKR sudah baik dan terarah agar tidak terjadi saling Tumpang tindih ini maka di Tapanuli Selatan dibentuk Batalyon Khusus Laskar Rakyat yang bukan Tentara dipimpin oleh Lettu Anwar Nasution serta wakilnya serda Jacup Harahap dan kepala Staf letnan dua Edi saputra.
Disamping tidak jelasnya posisi  antara laskar Rakyat dengan tentara terjadi juga tumpang tindih Jabatan sehingga terjadi persaingan-persaingan dalam menentukan posisi dan wilayah kekuasaan ditambah lagi ikut campurnya pemerintah sipil dan golongan tertentu yang menyebabkan suasana Semakin panas. Hal ini menyebabkan pada tanggal 12 Juli 1948 Presiden Soekarno turun ke Tapanuli dan Beliau mengadakan rapat di Sidempuan adapun rapat itu dibagi atas 2 Termin.
Rapat pertama Presiden mengundang tokoh-tokoh Masyarakat dan tokoh partai politik dengan agenda agar semua golongan bekerja sama dalam menggalang kesatuan dan persatuan. Rapat kedua di buka secara Umum dengan agenda yang sama yaitu menggalang kesatuan dan persatuan Bangsa.
      
       Kelanjutan dari kedatangan Presiden pada Tahun 1948 dibentuk Sub Komando Tapanuli/ Sumatera timur Selatan dibawah komando “Kolonel Tituler Mr. Abbas”  yang kemudian Mr. Abbas membentuk sub territorium VII komando Sumatera Timur Selatan dengan Mayor Bejo sebagai Staff Komando Operasi.
Ketika itu timbul desas-desus tokoh-tokoh Sumatera Timur akan membentuk Negara Sumatera Sehingga menimbulkan suasana panas kembali. 
Oleh karenanya Bejo, Malau, Saragih Ras, Payung Bangun juga Jacob Siregar dan M. Saleh Umar mengadakan rapat di Sipirok untuk menangkap Mr. Abbas beserta semua pendukungnya, hal ini mendapat perlawanan dari pihak Mr. Abbas sehingga terjadi tembak menembak yang mengakibatkan orang kepercayaan Mr. Abbas yang bernama kapten Koima Hasibuan tewas dalam pertempuran tersebut. Kemudian Mr. Abbas dan pendukungnya dibawa ke Sidempuan untuk diadili tetapi oleh Payung Bangun di bawa dahulu ke Sipirok hingga Mayor Bejo mengambil Tawanan untuk diserahkan pada wakil Presiden kemudian semua tentara Pengikut Koima Hasibuan di non aktifkan dan senjata mereka pun di sita.

Setelah peristiwa Mr. Abbas itu ternyata sengketa di tapanuli belum reda juga karena meletus sengketa yang didukung sipil.Oleh karenanya Wakil Presiden Moh. Hatta sebagai Panglima Tertinggi bersama Kolonel A.W. Kawilarang dan Mayor Ibrahim Adjie datang ke Sumatera Timur pada Agustus 1948 untuk memanggil semua pimpinan militer dan membentuk “ Komando Sumatera “ yang dipimpin oleh Kolonel A.W. Kawilarang dengan daerah perlawanan Sumatera Timur dan Tapanuli yang kemudian membagi daerah perlawanan itu menjadi 5 Sektor.
Antara lain :
Sektor I.      Meliputi Sumatera Timur Selatan, 
             Asahan, Labuhan Batu berbatas Riau, 
                     Sumbar dan Tapanuli Selatan dipimpin 
                     oleh Mayor Bejo.

Sektor II.    Tapanuli Utara dan Simalungun 
                     dipimpin oleh Mayor Liberty Malau
Sektor III.   Dairi dan Karo Selatan dipimpin oleh 
                     Mayor Selamat Ginting dan Kapten
                     Ulung Sitepu.
Sektor IV.   Tapanuli Tengah berbatas Aceh dan 
                     Nias dipimpin oleh Mayor Maraden 
                     Panggabean.
Sektor V.     Sektor Tambahan (Laut) dipimpin 
                     oleh Letkol Hp. Simanjuntak.

     Selanjutnya Sektor Tapanuli Selatan Pimpinan Mayor Bejo dibagi atas Sektor dan Sub Sektor yaitu :

KOMANDO SEKTOR – I
Subtoterium VII …………………. Mayor Bejo
Ka – Staf         …………. Kapten Amir Yusif
Kedudukan …………………...Sidempuan.

SUB SEKTOR – I ANGKOLA MANDAILING
Komandan Batalyon – I ………….......Kapten Mursalin
Ka - Staf             ……..…...…Letnan Hasbullah

SUB SEKTOR – II PADANG LAWAS-SIPIROK
Komandan ………....Kapten Payung Bangun
Komandan Batalyon – IV....Kapten Lenggang Bangun
Komandan Batalyon – V..Kapten Matheus Sihombing
Komandan Batalyon – VI ……Kapten A.E Simarmata.


SUB SEKTOR- III SUMATERA TIMUR
Asahan-Labuhan Batu……….Kapten Manaf Lubis
Komandan CPM .……………Harun Harahap.

KOMANDAN BATALYON ISTIMEWA
(Buruh Perkebunan) ……….…..Kapten Kesmuni.

   Untuk mengkoordinir pejuang dari kalangan masyarakat di bentuk Batalyon Opsir Dinas Istimewa (ODI)  yang tugasnya menggembleng Angakatan Gerilya dari rakyat dengan nama Gerilya Batalyon – I di pimpin oleh :

Komandan : Lettu Anwar Nasution
Wakil : Serma Kadet Jacub Harahap
Ka Staf : Letda Edi Saputra

      Mayor Bejo walaupun sebagai Komandan Sektor-I yang berkedudukan di Sidempuan selalu sigap dan terkadang ambil bagian pada pertempuran di wilayah binaannya meskipun wilayah pertempuran yang dipimpin oleh Mayor Bejo terbentang sangat luas mulai dari Asahan hingga Tapanuli Selatan, seperti halnya yang telah ditulis oleh Bagian Penerangan Sektor-I Pasukan Bejo bernama Edi Saputra, dalam bukunya Edi menjelaskan : Mayor Bejo mendapat info pada tanggal 23 Mei 1949 akan ada rombongan pasukan Belanda yang segera lewat dari arah Sidempuan menuju Sipirok, untuk itu Bejo mengatur siasat menghadang konvoi pasukan tersebut di perjalanan.
      Dalam penyerbuan itu Mayor Bejo mengerahkan pasukan Yon-VI dibawah komando Bagian Operasi  Sektor-I (Komando Sektor-I berkedudukan di Sidimpuan) yaitu Kapten Selamat Ketaren dan Kapten Hazhari Hasontang juga disertai oleh Kompi Tugi, Kompi Mena Pinem dan Kompi Sahala Pakpahan.
     Sekitar jam 09.00 setelah 5 jam menunggu konvoi pasukan Belanda itupun muncul dari arah Sidempuan diperkirakan rombongan tersebut terdiri dari sekitar 25 unit kendaraan, selanjutnya pasukan kita melakukan penyerangan dari atas bukit Simago-mago disekitar jembatan. Dalam pertempuran yang seru tapi singkat ini Mayor Bejo mengundurkan diri karena kalah persenjataan dari pihak Belanda yang telah dibantu oleh 2 unit pesawat terbang Pembom  datang dari lapangan terbang Pinang Sori Sibolga. Menurut Edi Saputra walaupun pertempuran itu terjadi cukup singkat, tetapi pasukan pimpinan Mayor Bejo tersebut menduga Jenderal Spoor yang turut dalam konvoi pasukan Belanda ikut tertembak.
  Adapun penggunaan Batalyon-VI tidak lagi dibawah pimpinan Komandan Batalyonnya Kapten A. E. Simarmata dan langsung dibawah Komando Bagian Operasi Sektor-I Kapten Selamat Ketaren dan Kapten Hazhari Hasontang dikarenakan A.E. Simarmata beserta Saragih Ras juga para pengikut setianya telah menyingkir ke perbatasan Tapanuli – Riau (Sibuhuan-Pasir Pangaraian), karena terjadi selisih paham dengan masyarakat Buleleng dan Aek Godang. Memang pada saat itu diantara penduduk ada juga yang menjadi kaki tangan Belanda sehingga pihak penghianat ini berusaha menghembuskan isu perpecahan antara tentara pendatang dengan Batalyon binaan tentara yang berasal dari daerah setempat dan juga antara tentara dengan masyarakat agar terjadi ketidakharmonisan antara mereka. 
       Disamping itu walaupun ada rantai komando di tubuh Tentara akan tetapi mereka bergerak pada kelompok sendiri-sendiri dan nyaris tidak berinteraksi dengan kelompok lainnya karena latar belakang terbentuknya tentara pada awalnya hanya secara spontan dengan tujuan yang sama yaitu mengusir penjajah Belanda sehingga walaupun ada pangkat (jabatan) yang lebih tinggi tapi di luar suatu kelompok tidak begitu dihiraukan dan acapkali kelompok yang satu merasa lebih unggul dari yang lainnya. 
      Pada saat itu dimanakah posisi Kapten Payung Bangun sehingga nama beliau tidak tercantum juga pada penghadangan konvoi tersebut, ada kemungkinan waktu itu Payung Bangun jauh dari Sipirok mengingat beliau adalah Komandan Sub Sektor Padang Lawas – Sipirok yang mangomandoi kawasan cukup luas dan membawahi 3 Batalyon, yakni Batalyon IV (Lenggang Bangun), Batalyon V (Matheus Sihombing) dan Batalyon VI (A.E. Simarmata).
    Akan tetapi saat ini buku Edi Saputra adalah sumber yang paling terpercaya, karena Edi adalah salah satu anggota Komando Sektor-I Sub Toterium VII Kepala Bagian Penerangan Tapanuli Selatan, sehingga pengarsipan secara resmi peristiwa penghadangan ini adalah tugas beliau.
      Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan, mengapa ada pengerahan pasukan besar-besaran menuju Sipirok yang dipimpin oleh “Panglima Tentra Belanda untuk Indonesia” yang berpangkat Jenderal, apakah mereka hanya sekedar lewat saja untuk meninjau wilayah pertempuran atau merasa terganggu oleh penyerbuan-penyerbuan Tentara Republik di Front Sipirok Area Pimpinan Letnan Basingan Bangun, sehingga mendatangkan bantuan pasukan ke Sipirok dan apakah benar orang nomor satu dalam pasukan Belanda untuk Indonesia itu (Jend Spoor) tertembak hingga tewas di jalur Sidimpuan Sipirok dalam pertempuran yang sangat singkat di bukit Simago-mago tersebut. Mungkin untuk menjawab hal ini perlu konfirmasi secara resmi antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang ada pada saat ini karena banyak kisah-kisah lain tentang wafatnya Jenderal Spoor.

MERDEKA !!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FRONT SIPIROK AREA