FRONT SIPIROK AREA
PENDAHULUAN
Basingan
Bangun adalah nama seorang Pemuda kelahiran Batu Karang Tanah Karo Sumatera
Utara pada tanggal 01 Januari 1926 kampung ini juga dikenal sebagai tempat
lahirnya Tokoh Pahlawan Nasional Kiras Bangun yang melawan Belanda Pada tahun
1905.Nama Basingan Bangun tidak lepas dari peristiwa Clash-II/Agresi Militer –
II Belanda Tahun 1948 di Sipirok.
Beliau
adalah seorang Letnan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang telah Aktif sejak
tahun 1945 beliau juga pernah menjadi perwira kadet Jepang setelah mengikuti
pendidikan Kosay Konbu pada masa Jepang menduduki Indonesia dan beliau terus
menerus mengabdi sebagai prajurit TNI sampai diberikan Keputusan Pensiun (Purn)
pada tanggal 31 Desember 1974 dengan tanda pangkat Letnan Kolonel.
Sudah
menjadi ketentuan dari tentara Republik di wilayah Sumatera Utara setiap
kawasan pertempuran di bagi atas “front”, untuk kawasan pertempuran Sipirok
juga terdapat front yang di sebut “ front Sipirok Area” dipimpin oleh Letnan
Basingan Bangun yang secara kebetulan pula seiring dengan beberapa saudara
sepupunya bernama Letnan dua Mendan Bangun, Sersan Nangkih Bangun dan Kopral
Mijer Bangun.
Basingan
Bangun dan Nangkih Bangun wafat pada usia tua mereka di makamkan di Pemakaman
Muslim Makam Pahlawan Medan, Begitu juga dengan Mendan Bangun yang meninggal
dunia pada usia tua juga dan beliau di makamkan di pemakaman Keristen di makam
Pahlawan jalan Sisingamangaraja Medan.
Sedangkan Mijer Bangun Tewas kena mortir Belanda di area Pertempuran Sipirok.
Sebenarnya buku ini sudah lama di sarankan oleh Mayor Payung Bangun untuk di
terbitkan tetapi baru sekarang terkesampaian. Akhirnya kami dengan rendah hati
mempersembahkan buku yang bersumber dari para pelaku langsung diantaranya
Basingan Bangun, Mendan Bangun, Nangkih Bangun, Bapak Ginting serta Bapak Taat
Siregar dan dilengkapi oleh beberapa Buku lain sebagai acuan.
Buku
ini kami susun dengan maksud agar tidak hilangnya suatu peristiwa yang terjadi
di sipirok sebab betapapun kecilnya peristiwa itu mungkin saja bisa menjadi
suatu hal yang dapat di kenang pada masa berikutnya.
Oleh : Drs. H. M. Fajar Bangun
KEADAAN TAPANULI SELATAN SEBELUM
BELANDA MELAKUKAN AGRESI – II
Terjadinya
tumpang tindih antara pasukan tentara dengan pasukan Laskar Rakyat yang berhaluan Politik ataupun masyarakat
yang mengangkat diri sendiri dan golongannya dengan memakai tanda pangkat
sesuka hati mulai dari sersan, letnan malahan ada yang mengangkat diri jadi
Jenderal tanpa Pasukan (waktu itu disebut Jenderal Mundar mandir) Pada hal
sejak tanggal 10 Oktober 1945 sudah dibentuk T.R.I di Sumatera Utara dengan
tanda pangkat tertinggi adalah “Mayor, Kapten, dan Letnan” bagi yang pernah
mengikuti Pendidikan Tentara Jepang serta Sersan kebawah bagi yang tidak
mengikuti Pendidikan Tentara Jepang. Rantai Komando Tentara itu diperjelas
dengan tanggal 6 mei 1946 sewaktu diadakannya pelantikan Militer pertama di
Medan dengan Upacara yang dihadiri oleh utusan dari Pusat yang bernama Mayor
Jenderal Harjowardoyo mulai saat itu tidak diberlakukan lagi pengangkatan
tentara dan pemberian pangkat yang tidak sesuai dengan prosedur pendidikan
karena administrasi TRI sudah baik dan terarah agar tidak terjadi saling
Tumpang tindih ini maka di Tapanuli Selatan dibentuk Batalyon Khusus Laskar
Rakyat yang bukan Tentara dipimpin oleh Lettu Anwar Nasution serta wakilnya
serda Jacup Harahap dan kepala Staf letnan dua Edi saputra.
Disamping
tidak jelasnya posisi antara laskar
Rakyat dengan tentara terjadi juga tumpang tindih Jabatan sehingga terjadi
persaingan-persaingan dalam menentukan posisi dan wilayah kekuasaan ditambah
lagi ikut campurnya pemerintah sipil dan golongan tertentu yang menyebabkan
suasana Semakin panas. Hal ini menyebabkan pada tanggal 12 Juli 1948 Presiden
Soekarno turun ke Tapanuli dan Beliau mengadakan rapat di Sidempuan adapun
rapat itu dibagi atas 2 Termin.
Rapat
pertama Presiden mengundang tokoh-tokoh Masyarakat dan tokoh partai politik
dengan agenda agar semua golongan bekerja sama dalam menggalang kesatuan dan
persatuan. Rapat kedua di buka secara Umum dengan agenda yang sama yaitu
menggalang kesatuan dan persatuan Bangsa.
Kelanjutan dari kedatangan Presiden pada
Tahun 1948 dibentuk Sub Komando Tapanuli/Sumatera timur Selatan dibawah komando
“Kolonel Tituler Mr. Abbas” yang
kemudian Mr. Abbas membentuk sub territorium VII komando Sumatera Timur Selatan
dengan Mayor Bejo sebagai Staff Komando Operasi.
Ketika
itu timbul desas-desus tokoh-tokoh Sumatera Timur akan membentuk Negara
Sumatera Sehingga menimbulkan suasana panas kembali.
Oleh
karenanya Bejo, Malau, Saragih Ras, Payung Bangun juga Jacob Siregar dan M.
Saleh Umar mengadakan rapat di Sipirok untuk menangkap Mr. Abbas beserta semua
pendukungnya, hal ini mendapat perlawanan dari pihak Mr. Abbas sehingga terjadi
tembak menembak yang mengakibatkan orang kepercayaan Mr. Abbas yang bernama
kapten Koima Hasibuan tewas dalam pertempuran tersebut. Kemudian Mr. Abbas dan
pendukungnya dibawa ke Sidempuan untuk diadili tetapi oleh Payung Bangun di
bawa dahulu ke Sipirok hingga Mayor Bejo mengambil Tawanan untuk diserahkan
pada wakil Presiden kemudian semua tentara Pengikut Koima Hasibuan di non
aktifkan dan senjata mereka pun di sita.
Setelah peristiwa Mr. Abbas itu ternyata
sengketa di tapanuli belum reda juga karena meletus sengketa yang didukung
sipil. Oleh karenanya Wakil Presiden Moh. Hatta sebagai Panglima Tertinggi bersama
Kolonel A.W. Kawilarang dan Mayor Ibrahim Adjie datang ke Sumatera Timur pada
Agustus 1948 untuk memanggil semua pimpinan militer dan membentuk “ Komando
Sumatera “ yang dipimpin oleh Kolonel A.W. Kawilarang dengan daerah perlawanan
Sumatera Timur dan Tapanuli yang kemudian membagi daerah perlawanan itu menjadi
5 Sektor.
Antara
lain :
Sektor I. Meliputi Sumatera Timur Selatan,
Sektor I. Meliputi Sumatera Timur Selatan,
Asahan, Labuhan Batu berbatas Riau
dan Sumatera Barat.
dipimpin oleh Mayor Bejo.
dan Sumatera Barat.
dipimpin oleh Mayor Bejo.
Sektor II. Tapanuli Utara dan Simalungun dipimpin oleh Mayor Liberty Malau
Sektor
III. Dairi dan Karo Selatan dipimpin
oleh
Mayor Selamat Ginting dan Kapten Ulung Sitepu.
Mayor Selamat Ginting dan Kapten Ulung Sitepu.
Sektor IV. Tapanuli Tengah berbatas Aceh dan Nias
dipimpin oleh Mayor Maraden Panggabean.
dipimpin oleh Mayor Maraden Panggabean.
Sektor V. Sektor
Tambahan (Laut) dipimpin oleh Letkol Hp. Simanjuntak.
Selanjutnya Sektor Tapanuli dibagi atas Sektor dan Sub Sektor yaitu :
KOMANDO SEKTOR – I
Subtoterium
VII ………………….
Mayor Bejo
Ka
– Staf …………. Kapten Amir Yusif
Kedudukan …………………...Sidempuan.
SUB SEKTOR – I ANGKOLA MANDAILING
Komandan
Batalyon – I ………….......Kapten Mursalin
Staf ……………..…...…Letnan
Hasbullah
SUB SEKTOR – II PADANG LAWAS-SIPIROK
Komandan ………....Kapten Payung Bangun
Komandan
Batalyon – IV .....Kapten Lenggang Bangun
Komandan
Batalyon – V ..Kapten Matheus Sihombing
Komandan
Batalyon – VI ……Kapten A.E
Simarmata.
SUB SEKTOR- III SUMATERA TIMUR
Asahan-Labuhan
Batu ……….Kapten Manaf Lubis
Komandan
CPM .……………Harun Harahap.
KOMANDAN BATALYON ISTIMEWA
(Buruh Perkebunan) ……….…..Kapten Kesmuni
Untuk mengkoordinir pejuang dari kalangan masyarakat di bentuk Batalyon Opsir Dinas Istimewa yang tugasnya menggembleng Angakatan Gerilya dari rakyat dengan nama Gerilya Batalyon – I di pimpin oleh :
Komandan : Lettu Anwar Nasution
Wakil : Serma Kadet Jacub Harahap
Ka Staf : Letda Edi Saputra
Untuk mengkoordinir pejuang dari kalangan masyarakat di bentuk Batalyon Opsir Dinas Istimewa yang tugasnya menggembleng Angakatan Gerilya dari rakyat dengan nama Gerilya Batalyon – I di pimpin oleh :
Komandan : Lettu Anwar Nasution
Wakil : Serma Kadet Jacub Harahap
Ka Staf : Letda Edi Saputra
MASUKNYA BELANDA KE SIPIROK PADA AGRESI – II
Ternyata
perjanjian Renville tidak membuat senang Belanda sebab pada dasarnya mereka
Cuma hanya ingin kembali untuk menjajah dan mengusai Indonesia sepenuhnya
sehingga pada tanggal 18 Desember 1948 Belanda mengumumkan bahwa tidak terikat
lagi pada perjanjian Renville, Kemudian pada 19 Desember 1948 Belanda melakukan
Aksi Militernya ke Ibukota Republik Indonesia pada waktu itu di Yogyakarta.
Seperti halnya daerah-daerah lain di
Indonesia daerah Sektor- I Sumatera Utara pun tidak luput dari penyerangan
besar-besaran pada wilayah sektor ini Belanda melakukan penyerangan dari
sebelah Barat dan Selatan.
Pergerakan
ini di mulai pada tanggal 19 Desember 1948 dari sebelah Selatan mereka bergerak
melalui garis status quo pulau Rakyat
kearah selatan dengan kekuatan satu Batalyon Infantri di bantu oleh Tank dan
Pantser Wagen dan didukung pula dengan serangan udara menggunakan pesawat
terbang, pada waktu itu Belanda dapat merebut Rantau Prapat dan Kota Pinang.
Pasukan Republik dari Brigade-XII dan Sektor-I menyingkir ke pedalaman. Kemudian
pada tanggal 23 Desember 1948 pasukan Belanda dengan kekuatan satu Batalyon
infantri didukung oleh bantuan Tank dan Pantser wagen di pelopori oleh pesawat
terbang bergerak melalui garis Status quo parapat menyerang daerah Barat dan
dapat merebut kota porsea, Balige dan siborong borong pasukan Republik
menyingkir ke pedalaman.
Pada
tanggal 25 Desember 1948, Belanda merebut Tarutung setelah melakukan perlawanan
pasukan di sini menyingkir ke pedalaman.
Pada tanggal 21 Januari 1949 Belanda
menyerang Sipirok mereka mengerahkan dua kompi tentara dibantu oleh Tank dan
Pantser Wagen, Belanda bergerak dari dua jurusan yaitu Jurusan Tarutung dan
Sidempuan yang telah mereka kuasai sebelumnya.
Penyerangan Belanda ke Sipirok ini
mendapat perlawanan dari Pasukan Republik dari Sektor-I (pasukan Front)
sehingga menyebabkan ada tentara yang terluka, senjata pasukan yang terluka itu
tercecer dan tidak sempat untuk di ambil kembali di perkirakan ada dua atau
tiga pucuk senjata ringan tidak dapat di selamatkan ketika pasukan republik mengundurkan
diri kepedalaman untuk kemudian mengatur strategi bergrilya.
Inisiatif
bergrilya ini diambil berdasarkan pengalaman tempur di Medan Area yang
membiarkan musuh hanya menguasai kota saja sedang luar kota tetap dalam
penguasaan tentara Republik yang kemudian mengatur Strategi
penyerangan-penyerangan berikutnya. Ataupun menyergap Patroli maupun Konvoi
Belanda secara tiba-tiba dan kemudian menghilang. Strategi Sistem Grilya ini
ternyata membingungkan dan membuat panik musuh juga system Grilya ini ternyata sangat
efectif dan di takuti musuh.
Karena
pasukan Front berkali-kali menyergap patroli Belanda juga menyerang pos pasukan
Belanda serta menyerang markas mereka di Sipirok hal ini menyebabkan pihak
Belanda mulai mengenal pasukan Front ini terutama serdadu Belanda yang pribumi
asli sehingga diantara mereka ada yang mengagumi para pejuang Front sebab
pasukan Front ini mempunyai semangat
tempur yang tinggi serta mempunyai tekad yang luar biasa untuk tetap
mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia sehingga diantara pasukan Belanda
itu ada yang secara diam-diam menjatuhkan peluru agar dapat di ambil dan
dipergunakan oleh tentara Republik.
Para petinggi pasukan Belanda dimarkasnya
sangat gusar atas penyerangan dan penyergapan yang dilakukan oleh pasukan kita,
mereka berkali kali mencari cara untuk menyergap balik pasukan kita tetapi pasukan ini
tetap raib dan tidak dapat di ketahui dimana markasnya, walaupun
terkadang mereka datang ke pemukiman penduduk dengan membawa anjing pelacak
serta menangkap dan menganiaya para penduduk untuk memperoleh informasi tetapi
tetap saja tidak berhasil mengorek keterangan dimana keberadaan pasukan Front ini. Diantara penduduk di
perkirakan ada juga menjadi kaki tangan yang berhubungan dengan Belanda
sehingga banyak juga rakyat pendukung pejuang yang bermukim di Sipirok menjadi
buruan dan di tembak mati oleh
KISAH KOPRAL MIJER BANGUN
Seperti yang diketahui Front Sipirok yang
dipimpin oleh Letnan Basingan Bangun mempunyai tiga ajudan yang salah satunya
bernama Kopral Mijer Bangun.
Mijer
adalah seorang pemuda tampan berkulit putih dan mempunyai sifat yang periang,
dalam sehari-hari beliau disenangi teman-teman seperjuangan karena agak kocak
dan suka menghibur teman-teman dengan tindakan yang bisa mengundang tawa.
Beliau sangat cinta perjuangan sehingga jika pasukan pergi menyerang ataupun
menyergap musuh ia tidak pernah ketinggalan, begitu juga pada suatu hari
menjelang penyergapan beliau bersiap-siap untuk ikut bertempur pada hari itu
beliau terlihat sangat gembira dan bersiul-siul riang.
Kemudian
setelah semua persiapan dirasa cukup maka Komandanpun memberi pengarahan
singkat lalu mereka berangkat ke Medan Pertempuran, Menjelang mendapatkan Kota
Sipirok pasukan ini dihambat oleh pasukan Belanda hingga terjadilah Tembak
menembak antara kedua belah Pihak.
Pada
mulanya Belanda kalah dan mundur hingga tentara Republik maju ke pertahanan
mereka tadi, disitu tergeletak para pasukan Belanda yang tewas karena ditinggal oleh temannya yang mundur
itu.
Mijer siperiang minta izin pada komandan
Front untuk melucuti pakaian Belanda yang bagus beliau memakai topi dan baju
Belanda dan memperlihatkan pada teman-temannya bahwa dia juga bisa tampil megah
seperti Belanda, karena rata-rata mereka memakai pakaian kusam dan jarang
diganti juga kerap kali di cuci kering.
Setelah bala bantuan Belanda datang
membawa senjata berat dan Mortir Besar, pasukan Republik terdesak dan bertahan
di persawahan penduduk Mijer saat itu menjadi sasaran tembak terus menerus oleh
Belanda sebab penampilanya yang berebeda dan kelihatan Necis sehingga Belanda
menyangka beliau adalah Komandan Front. Akhirnya tubuh Mijer hancur berantakan terkena
mortir kemudian pasukan Republik undur dengan meninggalkan Jasad Mijer dan
teman temannya tewas di lokasi pertempuran. Pada waktu pertempuran ini
diperkirakan ada sekitar 30 orang dari tentara front yang tewas di pesawahan
penduduk tersebut.
KISAH TANK PALSU YANG MENYELAMATKAN PATROLI PASUKAN BELANDA
KISAH SRIKANDI PENGGALI KUBUR
Diwilayah Komando Sumatera Sektor-I
pimpinan Mayor Bejo banyak terdapat Srikandi sebagai Palang Merah, diantaranya
seorang gadis belia yang berasal dari desa Bunga Bondar Sipirok Tapanuli
Selatan orang tuanya merantau ke Kisaran Kabupaten Asahan oleh karenanya,
beliau lahir dan tumbuh besar di kota ini.
Beliau dan teman-temannya merasa
terpanggil untuk mengabdikan diri pada negara maka mereka pun tergabung dalam
Palang Merah Asahan pimpinan Mayor Bejo.
Mungkin
karena adanya Kebun Asing di Asahan (Uni Royal) maka di kota ini banyak pula
terdapat Mantan Serdadu KNIL.
Pada
saat ini di Asahan terdapat pula suatu pasukan yang menamakan diri Legiun
Penggempur (LP) mereka acapkali menangkap orang-orang yang dicurigai sebagai
bekas tentara KNIL dan terkadang orang yang dicurigai itu langsung dihukum mati
tanpa ada peradilan terlebih dahulu sehingga hal itu menciptakan suasana yang
panas dan tegang di wilayah ini. Oleh karenanya Ramlah Tambunan meminta agar di
pindah Tugaskan ke kampung halamanya di Sipirok. Sebab beliau mendengar di
Sipirok itu sering terjadi pertempuran yang tentunya membutuhkan Perawat.
Sesampainya di Sipirok beliau tinggal di
rumah Namborunya di Simangambat disana beliau banyak bertemu Srikandi lainnya
termasuk saudara dari pihak Ibu dari keluarga Raja Inal Siregar. Di daerah
Sipirok inilah beliau bertemu dengan Komandan Front Sipirok Area Letnan
Basingan Bangun karena saling suka bak
lagu selendang Sutra merekapun menikah di Arse.
Mereka kadang-kadang saja bertemu karena
Basingan Bangun lebih banyak berada di markas dalam hutan, tetapi terkadang
beliau ikut juga ke hutan untuk menanak nasi sang suami atau membawakan bahan
makanan.
Serdadu
Belanda terkadang datang ke Arse untuk melakukan patroli mereka acapkali
menembak penduduk yang di curigai membantu para pejuang dan mereka juga
mengetahui mana penampilan wanita pendatang yang tidak pandai memakai kain
sarung karena sehari-hari kebiasaan penduduk setempat memakai kain sarung.
Pada suatu hari Belanda datang memeriksa
rumah-rumah penduduk dan telah menembakmati seorang yang mereka curigai, hal
ini membuat Sinamboru was-was atas keselamatan keponakannya kemudian
Sinamboru merencanakan untuk menyuruh
ponakannya ikut menguburkan dan mencangkul kuburan orang yang wafat itu karena
pada saat itu di daerah tersebut kekurangan lelaki jadi tidak heran jika wanita
yang menggali kuburan. Hal ini dilakukan agar jika serdadu Belanda lewat di pemakaman
itu mereka menyangka si Boru Tambunan adalah keluarga dari Almarhum, dan ketika
rombongan serdadu melewati pemakaman tersebut salah seorang dari mereka entah
curiga atau asal bicara saja salah
seorang dari mereka berkata “ Mampus koe laki ikut perang koe yang menjadi
penggali kubur”, mendengar itu si Boru Tambunan sangat ketakutan dan hampir
pingsan tetapi tetap berdo’a didalam hati agar jangan ketahuan beliau adalah
istri dari Komandan Front.
Sejak
saat itu Boru Tambunan dengan kedua
pengawalnya lari bersembunyi kehutan dan bukit-bukit Terjal jika serdadu
Belanda datang melakukan Patroli Sangkin terjalnya bukit yang mereka pilih
dalam persembunyian itu untuk turun tinggal merosot saja.
CEASE FIRE (GENCATAN SENJATA)
Karena
perlawanan yang tidak putus-putusnya dari tentara Republik maka pada tanggal 23
Agustus 1949 diadakan Perundingan Indonesia-Belanda di Den Haag Negeri Belanda,
Perundingan itu dinamakan “Konfrensi Meja Bundar” (Round Table Confrece)
delegasi Indonesia dipimpin oleh Mr. Mhd Roem sedangkan delegasi Belanda
dipimpin oleh Dr. Van Royen. Pada waktu itu lahirlah kesepakatan antara kedua
belah pihak yang disebut Roem – Royen Statement yang isinya sebagai berikut :
1. Document
Penghentian permusuhan
· Perintah
penghentian permusuhan di seluruh Indonesia dikeluarkan pada waktu bersamaan
oleh kedua belah pihak.
· Penghentian
tembak menembak dan segala perbuatan yang merugikan pihak lain
· Tentara
Belanda harus menghentikan segala gerakan militer
· Segala
Anggota TNI harus menghentikan peperangan Grilya.
· Bagi
yang melanggar perintah akan di hukum
2. Kesepakatan
Bersama
· Tidak
diadakan tindakan pada seseorang yang menentukan pilihannya
· Mereka
yang di tahan harus di merdekakan
· Tidak
boleh mengadakan Propaganda
· Tidak
di perkenankan melakukan Terorisme,Sabotase maupun Propokasi
3. Peraturan
Bersama
· Tidak
diperkenankan memperluas daerah perondaan
· Boleh
berpindah tempat sejauh masih dalam wilayah perondaan sendiri
· Lalu
lintas yang bebas bagi penduduk sipil pengangkutan barang yang bebas kecuali
alat-alat perang.
· Kedua
belah pihak akan bekerja sama dalam memelihara keamanan dan ketertiban dan
melindungi segala golongan penduduk
· Ronda
hanya sebatas keperluan keamanan
· Cara
kerja wakil-wakil kedua belah pihak
Walaupun
sudah ada kesepakatan Roem-Royen ini pasukan Republik tetap waspada dan siap
tempur jika Belanda memulai penyerangan lagi sebab Republik tidak percaya
sepenuhnya pada pihak penjajah yang selama ini selalu saja melanggar perjanjian
dan walaupun sudah ada kesepakatan ini Belanda masih tetap melakukan
pergerakan-pergerakan yang mencurigakan.
Pertempuran demi pertempuran yang dilakukakan
oleh tentara republik Indonesia yang di dukung oleh rakyat selama ini ternyata
membuka mata dunia bahwa Indonesia adalah suatu Negara yang berdaulat oleh
karenanya Dunia mulai menyoroti pertikaian Indonesia-Belanda itu.
Liga Arab adalah Negara-Negara yang
pertama kali mengakui kemerdekaan Republik Indonesia di ikuti oleh pengakuan
dari Negara-Negara lain oleh karenanya PBB pun Mulai bersunggug-sungguh campur
tangan untuk menyelesaikan pertikaian antara Indonesia-Belanda ini, untuk itu
PBB merasa perlu untuk membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri dari
Negara Belgia sebagai perwakilan Belanda, Australia sebagai Perwakilan
Indonesia dan Amerika Serikat sebagai perwakilan kedua belah pihak.
Salah
satu tugas KTN ini untuk menghentikan Tembak menembak antara kedua Negara
(Cease Fire) maka pada tanggal 3 Agustus kesepakatan Gencatan Senjata di jalankan secara sungguh-sungguh akan
tetapi untuk merealisasikan hal ini kelapangan bukan suatu hal yang mudah
demikian pada halnya di wilayah Sipirok Area karena lokasi pertahanan inti
(Front) berada di hutan yang sulit untuk di jangkau.
Oleh karena sulitnya untuk menjangkau
lokasi itu maka wakil presiden Drs. Moh. Hatta memerintahkan pada panglima
komando Sub Totarial VII Kolonel A.W Kawilarang untuk mensosialisasikan
Gencatan Senjata itu dengan berbagai cara, termasuk menjatuhkan selebaran di
sekitar markas pertahanan Tentara Rakyat Indonesia melalui Pesawat terbang.
Oleh
karenanya kemudian Kawilarang pun menjatuhkan slebaran yang isinya meminta agar
“ Komandan Front Sipirok Area ” untuk datang berunding kekota Sipirok membahas
masalah Gencatan Senjata.
Kemudian Letnan Basingan Bangun dengan
seorang pengawalnya juga membawa serta seorang guru di Sipirok sebagai Juru
Bahasa hadir ke markas Belanda memenuhi panggilan itu
Setelah
tiba di Gedung pertemuan ternyata telah hadir rombongan kolonel Kawilarang dari
pusat dan telah hadir pula
rombongan dari komisi Tiga Negara, serta
para para petinggi Tentara Belanda.
Diruangan itu terdapat sebuah meja besar
mereka duduk berdasarkan urutan yang telah diatur berdasarkan pangkat dan
jabatan, oleh karenanya Letnan Basingan Bangun duduk berhadapan dengan Komandan
Front pihak Belanda yang menjadi musuhnya selama ini.
Setelah
diadakan pertemuan yang dipelopori oleh Komisi Tiga Negara itu tidak ada lagi
pertempuran di kedua belah pihak.
KISAH PRAJURIT JOHAN
Diantara
serdadu Belanda ada yang bernama Johan berpangkat Prajurit, walaupun beliau
seorang Serdadu Belanda (KNIL) tetapi hatinya cenderung berpihak pada Republik
sebab beliau memang seorang Pribumi di setiap pertempuran beliau dan kedua
orang temannya yang Pribumi juga acapkali menjatuhkan peluru agar dapat diambil
dan digunakan oleh tentara Republik demikian pula sewaktu mereka ikut Patroli
beliau pasti menjatuhkan peluru secara sembunyi sembunyi jika ada kesempatan.
Secara diam-diam, mereka bertiga selalu
membicarakan tentang kegigihan perjuangan Tentara Rakyat Indonesia yang
dipimpin oleh Basingan Bangun dan mereka mengagumi sang Komandan Front. Mereka
bertiga berencana jika ada kesempatan akan melarikan diri dari kesatuannya
untuk bergabung dengan Tentara Republik.
Pada Suatu kesempatan akhirnya mereka
melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan Basingan Bangun dengan membawa
senjata dan banyak peluru. Mengetahui hal ini pihak Belanda marah besar dan
sangat berang, setelah di cari ke berbagai tempat prajurit Johan dan
teman-temannya tidak dapat ditemukan, Walaupun mereka telah mengerahkan banyak
orang untuk mencarinya. Akhirnya mereka mendapat kabar Prajurit Johan dan
teman-temannya melarikan diri untuk bergabung dengan pasukan Basingan Bangun.
Untuk itu pihak Belanda mengirim surat
meminta agar koamandan Front datang ke pusat pertahanan Belanda di kota
sipirok, untuk ditanyai tentang keberadaan Prajurit Johan dan teman-temannya.
Oleh karena pada saat itu di dalam suasana Gencatan Senjata (Cease Fire) Maka
Basingan Bangun beserta Seorang Pengawalnya pun datang ke pusat pertahanan
Belanda itu.
Sesampainya disana Beliau di tanyai
tentang keberadaan Prajurit Johan dan teman- temannya akan tetapi mereka tetap
mengatakan tidak tau. Setelah diperiksa selama tiga hari mereka pun di lepaskan
jauh di luar kota Sipirok (daerah pijor
koling) di hantar oleh pasukan Belanda bersenjata lengkap dan di sisi yang lain
ditunggu oleh pasukan Republik bersenjata lengkap pula. Ketika mereka berpindah
menuju pasukannya mereka berteriak teriak agar pasukan Republik jangan menembak
sebab jika ada yang memulai menembak hancurlah mereka di tengah-tengah. Lalu
kedua pasukan pun kembali ke markas masing-masing tanpa ada kontak senjata.
SERDADU BELANDA MENINGGALKAN SIPIROK
Setelah
pengumuman Cease fire yang diadakan di kota Sipirok antara Indonesia dengan
Belanda yang dihadiri oleh petinggi petinggi kedua belah pihak juga dihadiri
oleh perwakilan Komisi Tiga Negara itu, tidak lama kemudian Tentara Belanda
keluar secara total dari Sipirok karena telah menyerahkan kedaulatan pada
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam pelaksanaan pengunduran pihak
Belanda itu diadakan upacara serah terima secara Tentara di sebuah lapangan
Kota Sipirok yang dihadiri oleh petinggi-petinggi militer dari kedua belah
pihak, pada waktu serah terima itu Tentara Republik sudah di bekali baju baru
dan perlengkapan yang rapi.
Selanjutnya sebagai symbol kedua pasukan
Front berbaris berhadap hadapan dipimpin oleh Komandan Front masing-masing
setelah diadakan kata-kata sambutan juga kata perpisahan selanjutnya kedua
belah pihak itupun bersalam salaman dan Belanda pun bersiap untuk kembali ke
Negerinya.
Demikianlah
sekelumit tentang “ Front Sipirok Area” kisah ini di peroleh dari Basingan Bangun dan
Kawan-kawan.
SEBAGIAN
SENJATA YANG
DIPERGUNAKAN PASUKAN REPUBLIK
INDONESIA DI SUMATERA UTARA PADA AGRESI-I DAN AGRESI-II
( Museum Perjuangan TNI Medan)









Komentar
Posting Komentar