Komando Sektor I Subtoterium VII Pimpinan Mayor Bejo Manghadang Jenderal Spoor di Bukit Simago-mago Tapanuli Selatan
Oleh : Drs. H. M. Fajar Bangun
Mayor Bejo
walaupun sebagai Komandan Sektor-I yang berkedudukan di Sidimpuan selalu sigap
dan terkadang ambil bagian pada pertempuran di wilayah binaannya, meskipun
wilayah pertempuran yang dipimpin oleh Mayor Bejo terbentang sangat luas mulai
dari Asahan hingga Tapanuli Selatan. Seperti halnya yang telah ditulis oleh
bagian penerangan Sektor-I pasukan Bejo yang bernama Edi Saputra, dalam bukunya
yang berjudul “Bejo Harimau Sumatera dalam Perang Kemerdekaan” Edi menjelaskan Mayor Bejo mendapat info pada tanggal 23 Mei
1949 akan ada rombongan pasukan Belanda yang segera lewat dari arah Sidimpuan
menuju Sipirok, untuk itu Bejo mengatur siasat menghadang konvoi pasukan
tersebut di perjalanan.
Dalam penyerbuan itu Mayor Bejo mengerahkan pasukan Yon-VI dibawah
komando bagian operasi Sektor-I (Komando Sektor-I berkedudukan di Sidimpuan)
yaitu Kapten Selamat Ketaren dan Kapten Hazhari Hasontang juga disertai oleh
Tugi, Kompi Mena Pinem dan Kompi Sahala Pakpahan. Sekitar jam 09.00 setelah
lima jam menunggu konvoi pasukan Belanda tersebut muncul dari arah Sidimpuan,
diperkirakan rombongan itu terdiri dari sekitar 25 unit kendaraan selanjutnya
pasukan kita melakukan penyerangan dari atas bukit Simago-mago sekitar jembatan.
Dalam pertempuran yang seru tapi singkat itu Mayor Bejo dan Pasukannya
mengundurkan diri karena kalah persenjataan dari pihak Belanda yang telah
dibantu oleh dua unit pesawat terbang pembom datang dari lapangan terbang
Pinang Sori Sibolga. Menurut Edi Saputra walaupun pertempuran itu cukup singkat
tetapi pasukan pimpinan Mayor Bejo tersebut menduga Jenderal Spoor yang turut
dalam konvoi pasukan Belanda itu tertembak hingga tewas.
Yang menjadi pertanyaan mengapakah dalam penyerbuan konvoi Belanda itu
tidak tercatat nama Kapten A.E. Simarmata Komandan Batalyon VI, sedangkan
pengerahan pasukan menggunakan Batalyon VI yang pada saat itu A.E. Simarmata menjabat
sebagai Komandan Batalyonnya.
Pada saat itu dimanakah posisi Kapten Payung Bangun sehingga nama
beliau tidak tercantum pada penghadangan konvoi tersebut, sedangkan Kapten
Payung Bangun adalah Komandan Sub Sektor-II Padang Lawas – Sipirok apakah pada
waktu itu Payung Bangun tidak berada disekitar Sipirok karena Sub Sektor Padang
Lawas – Sipirok yang dikomandoinya cukup luas dan terdiri dari 3 Batalyon,
yakni Batalyon IV pimpinan Lenggang Bangun, Batalyon V Pimpinan Kapten Matheus
Sihombing dan Batalyon VI Pimpinan Kapten A.E. Simarmata.
Aka tetapi saat ini buku Edi Saputra adalah sumber yang sangat
dipercaya karena Edi adalah salah satu Komando Sektor-I Sub Toterium VII Kepala
Bagian Penerangan Tapanuli Selatan sehingga pengarsipan secara resmi peristiwa
ini adalah tugas beliau.
Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan, mengapa ada pengerahan pasukan
besar-besaran menuju Sipirok yang dipimpin oleh Panglima Tentara untuk Indonesia yang berpangkat Jenderal, apakah
mereka hanya sekedar lewat saja untuk meninjau wilayah pertempuran atau merasa
terganggu oleh penyerbuan-penyerbuan Tentara Republik di Front Sipirok Area
pimpinan Letnan Basingan Bangun, sehingga mendatangkan bantuan pasukan ke
sipirok dan apakah benar Jenderal Spoor tertembak hingga tewas di jalur
Sidimpuan – Sipirok dalam pertempuran yang sangat singkat di bukit Simago-mago
tersebut. Mungkin untuk menjawab pertanyaan ini perlu konfirmasi secara resmi antara
Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Belanda saat ini karena banyak
kisah-kisah yang lain tentang wafatnya Jenderal Spoor.
Medan, Mei 2018
Sekali
Merdeka Tetap Merdeka!!
klo menurut cerita org2tua dulu dikampung saya yg berperang melawan jendral spoor adalah laskar pimpinan sahala muda pakpahan.mereka ini laskar bukan tni pada masa itu banyak laskar diluar tni.dan kbrnya mereka berhasil menembak mati jend.spoor yg melintas di sipirok/simago2. laskar mereka ini hanya modal senapan locok dan anggota sisa2 dari batalyon kapten koima hasibuan yg bermarkas di sidempuan.batalyon ini hampir habis dibantai mayor malau yg bermarkas di arse.pada saat itu kapten beja blm tiba dari medan.oh ya mengenai jend.spoor kenapa ada di sipirok. setelah belanda merebut sibolga mereka berencana mau kemedan lwt sidempuan,sipirok trus tarutung. setelah kejadian itu belanda membunuhi masyarakat sipil sipirok supaya SM pakpahan menyerah. itu cerita yg saya dapat,,,,sekedar info bapak saya anak buahnya mayjend marah halim harahap
BalasHapusHarus diteliti kembali cerita orang tua dulu itu. Spoor datang disertai Tank dan Pantser wagen dibantu pesawat pembom. Sedang pasukan yang menyerang cuma pakai senjata Locok.
HapusKapten Koima Hasibuan tewas diserang TKR, kerena diduga berkhianat. Pasukan Koima di bubarkan dan seluruh senjatanya disita.
TKR pada masa itu adalah Tentara Resmi dibawah panglima tertinggi Muh Hatta (wakil Presiden), Menteri pertahanan Supriadi, Panglima Besar TKR Jedral Soedirman dengan Staff Let Jendral Oerip dan telah dibentuk KOMANDO SUMTERA meliputi Sumatera Timur dan Tapanuli dipimpin oleh Kolonel Kawilarang. Senjata TKR di Sipirok sudah Modern dan tidak jauh berbeda dengan senjata Belanda. Senjata itu diperoleh dari:
■Rampasan gudang senjata Jepang.
■Dibeli dari Pasar gelap Singapura
■Dari pasar gelap Malaysia
■Dibawa Tentara Jepang yg turut berjuang pd Republik (21 Orang Jepang dimakamkan di makam Pahlawan Medan)
■Perbaikan senjata buangan Belanda yg diperbaiki oleh bekas pekerja bengkel senjata Belanda yg pribumi.
Kawilarang membagi Komando Sumatera atas 5 Sektor SEKTOR-I adalah Asahan, Labuhan Batu dan Tapanuli Selatan dibawah Mayor Bejo.
Menurut pelaku Sejarah bernama Kapten Edisahputra yang turut dalam penyerangan, Edi menyebutkan penyerangan itu sangat singkat kerena Belanda dibantu oleh Pesawat Pembom yg datang dari Pinang Sori Sibolga.
Letnan Edi Saputra juga menyebutkan, kedatangan Spoor infonya diperoleh dari mata2 republik yg ditugaskan TKR yaitu seorang Dokter di Sidempuan.
Kemudian Mayor Bejo menggalang pasukan untuk menyergap rombongan Spoor, Pasukan yang digalang Mayor Bejo untuk menyergap ialah:
●Pasukan Letnan Hasontang Harahap
●Pasukan Letnan Selamat Ketaren
●Pasukan Batalyon -VI, yang komandannya (AE Simarmata sudah tidak ada)
●Pasukan Kompi Tugi
●Pasukan Kompi Sahala Pakpahan
●Pasukan Kompi Mena Pinem.
Tentang berita tertembaknya Spoor adalah cerita yang menyebar dimasyarakat dan tidak ada pernyataan resmi dari pihak Republik maupun
pihak Belanda.
Salam Merdeka !!
Kesimpulannya. Mayor bejo cuman main klaim saja. Sebab laskar yg di maksud tidak resmi, dibuang sayang katanya. Klaim saja ah, katanya tanpa rasa jijik. Bejo bejo bejo, bukan harimau sumatera tapi harimau haus popularitas.
BalasHapuskenapa kapten AE Simarmata? bagaimana cerita beliau? mungkin menraik untuk ditelusuri.
BalasHapusTerimakasih sudah membuat berita ini karena kalau tidak ada yang menceritakan maka kami tak tau lagi kejadian-kejadian dulu. Anak cucu pelaku sejarah akan sangat terbatntu
BalasHapus